Teror Kamar 211

August202016
Assalamualaikum Wr.Wb



Hallo, apa kabar di malam yang horor ini? Terutama buat para jomblo. razz
Zia merasa malam keramat itu bukan malam jum'at, tetapi malam minggu. mrgreen
Karena banyak pemandangan menyeramkan. Semua pasangan muda-mudi lewat berpegangan tangan sedangkan Zia sendirian. Hikks.. Horor banget kan? lol

Ahh sudahlah lupakan! Zia mau berbagi cerita horor aja di malam yang mencekam ini. Pas banget, biar dapat sisi romantisnya. redface lol
(Cerita horor kok lari ke romantis? Adminya ngawur karna galau.) *dilempar sendal lol

Cerita ini diangkat dari kisah nyata dan pengalaman pribadi. Kejadian itu berlangsung 2 tahun yang lalu, pada tahun 2014. Langsung saja, yukk dibaca.. wink



Teror Kamar 211




Hari itu matahari bersinar dengan sangat cerah. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 16.00 wib. Kilauan keemasannya masih memancar mega. Seperti tak ada tanda hari akan segera berganti. Aku masih saja berkutat dengan pakaian yang saat ini telah selesai kubereskan. Hanya tinggal memasukkannya ke dalam koper. Sebenarnya aku tak diperbolehkan untuk berberes sendiri, tapi aku tak ingin selalu menyusahkan keluargaku. Aku buru-buru bergegas untuk bersiap. Tak banyak waktu, karna kami telah membuat janji terlebih dahulu dengan Dokter.

Hari ini aku akan menjalani chek up rutin. Setiap bulannya aku selalu pergi ke Dokter yang sudah ku anggap seperti Ayahku sendiri. Selama 2 tahun belakangan setiap bulannya aku pasti menjalani pemeriksaan dan opname di salah satu rumah sakit di Pematangsiantar.


✳✳✳



Jam menunjukkan pukul 18.00 wib. Aku sudah tiba di IGD Rumah Sakit, setelah sebelumnya terlebih dahulu melakukan pemeriksaan di peraktik Dokter. Aku tak menyebutnya Rumah Sakit, tetapi aku menyebutnya sebagai rumah kedua. Karena perawat di sini hampir seluruhnya mengenalku. Mereka sudah seperti saudaraku sendiri.

Aku tak hanya sendiri datang ke sini. Aku di dampingi oleh Mama, Ayah dan juga 2 orang kakak ku. Tetapi Ayah langsung pulang setelah urusan untuk darah transfusi selesai. Karna keesokan harinya ia harus kembali bekerja.

Tiba-tiba, perawat Jesy datang menghampiriku lalu berkata "Zia, nanti di ruangan nomor 211 lantai 2 ya," sambil memasangkan gelang pasien di tanganku.

"Iya, suster." aku mengangguk pelan dan melemparkan senyuman.

Lalu aku dibawa menggunakan kursi roda ke lantai 2 tempat biasa aku di rawat. Hanya saja aku selalu berpindah-pindah ruangan. Dan ini kali pertama aku menempati ruangan nomor 211.

Dari kejauhan aku tak merasakan apapun, namun ketika didepan pintu tiba-tiba saja bulu kudukku meremang. Ketika netraku menangkap sesuatu bayangan besar di teras luar, persis di samping kamar aku di rawat. Kebetulan kamar ini berada paling ujung menghadap sebuah gedung dan pohon mangga besar.

Awalnya aku tak terlalu menghiraukan, namun ketika aku dibawa masuk kedalam ruangan, tercium aroma amis dan bunga yang sangat menyengat hidung. Aku merasa sangat tidak nyaman berada dikamar ini. Bukan hanya itu, kali ini netraku terarah ke bawah ranjang pasien yang akan aku tempati. Di situ aku melihat ada anak kecil menatap ke arahku dengan wajah separuh dipenuhi darah, mata yang hampir keluar, dan lidah menjulur tengah merangkak di lantai.

Aku mulai menenggak air liurku sendiri, merasa jijik dan sedikit ngeri.Aku tak mengatakan apapun pada keluargaku, karna aku khawatir mereka akan merasa takut. Wajar saja, karna aku bisa melihat makhluk tak kasat mata sedangkan mereka tidak. Sehingga mereka tak tau apa yang ada di kamar itu.

"Mimpi apa aku semalam hingga ditempatkan dikamar ini," gumamku dalam hati.

Aku masih memperhatikan sekelilingku, tak menghiraukan suara tv yang kini sudah di nyalakan oleh kakakku. Aku merasakan aura negatif cukup besar berada di dalam kamar ini. Sehingga membuat tubuhku sedikit lemas. Aku tak bisa berbuat banyak, karna kondisiku juga sedang drop dengan jarum infus menancap ditangan. Aku menahan semampuku saja dengan membaca beberapa ayat suci Al-Quran yang pernah ku pelajari sebelumnya dari Ayah. Ya, dia banyak mengajarkanku soal agama, dan juga mengajarkanku bagaimana cara untuk menaklukkan makhluk tak kasat mata dengan kelebihan yang ku punya.

Jam telah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Perlahan keadaan mulai membaik. Sehingga aku dapat merileks kan tubuhku di atas ranjang. Aku merasa sangat lelah, karena apa yang kulakukan cukup menguras energi. Aku mulai menutup mataku perlahan. Namun belum 5 menit, aku dikejutkan oleh kedatangan sosok wanita berbaju putih, lusuh dan kotor dengan rambut acak yang panjang hingga pinggang berdiri di tepi ranjang.

"Hei! Tak bisakah kau biarkan aku istirahat sebentar saja?" teriakku dalam hati.

Kekesalanku memuncak, karna kedatangannya hampir saja membuat jantungku copot. Makhluk itu hanya membelakangiku dan enggan untuk pergi. Aku tahu maksud kedatangannya, ia hanya ingin mengajakku berinteraksi dengan cara memasuki ragaku ini.

"Enak saja, aku takkan membiarkanmu melakukannya. Pergilah, aku tak mau melihatmu," kataku pelan agar tak membangunkan keluargaku yang kini sudah tertidur pulas.

Namun sepertinya dia mengerti perkataanku, dan akhirnya pergi menghilang melalui celah lubang angin yang berada di atas pintu.
Aku memutuskan untuk tetap terjaga hingga pagi. Karena aku takut dalam kondisiku yang lemah, aku tak dapat menghindarkan hal buruk yang akan terjadi nanti.


✳✳✳



Keesokan paginya, aku berjalan ke teras sambil menyeret tiang infus yang masih menancap di tanganku. Aku ingin mencari tahu, dimana makhluk-makhluk itu bersembunyi.
Netraku langsung menangkap ke arah sebelah kanan yang terdapat pohon mangga dengan ukuran besar berdaun sangat rimbun, dan tak jauh dari pagar sekitar berjarak 5 meter terdapat bangunan gudang penyimpanan barang. Aku menyadari bahwa kamar yang ku tempati ini juga merupakan daerah tempat mereka biasa bermain.

Namun aku tak menghiraukan, aku sangat senang pagi ini, dan mengucapkan selamat tinggal kepada mereka karna Dokter telah memberiku izin untuk pulang ke rumah siang ini. Untungnya aku hanya dirawat sehari dan tak perlu berlama-lama berada di kamar ini.


✳✳✳



Sore itu sekitar pukul 15.00 wib, aku telah sampai di rumah. Aku merilekskan tubuhku berbaring di ranjang. Aku merasa sangat lelah karna semalaman aku terjaga. Rasanya mataku sangat berat hingga tanpa sadar aku tertidur.
Namun, tiba-tiba saja aku merasa sesak tak bisa bernapas. Ada sesuatu menekan kuat dadaku, hingga membuyarkan pandanganku. Samar-samar netraku masih dapat menangkap sosok besar berbulu dengan mata merah duduk di tepi ranjang sebelum pandanganku gelap seketika.

Aku mencoba untuk melawan namun aku gagal. Hingga aku mengira, mungkinkah itu makhluk sejenis gederuwo? Aku merasa peluhku mulai bercucuran karna menahannya agar tak menguasai diriku sepenuhnya. Aku masih berkutat dengan pikiranku sendiri, walau kini tenagaku perlahan melemah. Aku masih menerka-nerka makhluk apa yang sedang ku hadapi? Jin, malaikat, lelembut, atau apa? Bagaimana mungkin jika itu adalah malaikat pencabut nyawa lalu aku melawannya?

Aku melemaskan tubuhku dan merenggangkan perlawannan karna aku tak mau kalah begitu saja. Aku mencoba untuk mengambil napas karna kini sudah semakin sedikit oksigen yang dapat ku hirup. Makhluk itu masih tak mengendurkan cengkramannya sedikitpun. Dalam pandangan yang masih gelap, aku mengumpulkan sisa tenaga yang ada. Aku memfokuskan pikiran sehingga aku dapat melihat sosoknya dengan jelas walau dengan mata yang tak bisa melihat. Tubuhnya sangat besar, berbulu, mata kemerahan hingga taring yang keluar dari mulutnya yang lebar. Keberadaan energinya lebih terasa, lebih besar, tebal dan padat. Dari situ aku yakin sosok yang ku hadapi adalah gundoruwo.
Aku meringis takut melihat sosok menyeramkan yang sedang ku hadapi saat ini. Lalu aku Istiqomah, berzikir dan membaca beberapa ayat suci Al-Quran dalam hati sembari mendorong kuat tubuh makhluk itu yang langsung menghilang seketika.

Aku bangkit dan terduduk, mengatur napasku yang masih terengah. Pandanganku perlahan kembali normal.
Peluhku masih berjatuhan membasahi wajah dan kusapu perlahan dengan kedua punggung tanganku yang juga masih gemetaran.
Menyaksikan hal itu, kakak ku sontak kaget karna mengira aku seperti orang yang akan di cabut nyawanya. Karna tadi tubuhku bergetar mulutku sedikit menganga susah bernapas dan kedua tanganku seperti mendorong sesuatu ke arah tepi ranjang.

Kakak ku langsung menghampiri, memberikanku segelas air lalu menanyakan sebenarnya apa yang terjadi. Aku masih saja bungkam, belum dapat membuka mulutku untuk menceritakan kejadian yang baru saja ku alami. Hingga akhirnya ketika napasku telah stabil, akupun membuka suara dan menceritakan semuanya. Mendengar ceritaku kakak ku sedikit keheranan, tidak biasanya aku lemah seperti itu, dan mulai membuatnya berpikir makhluk apa yang menyerangku. Dia sudah terbiasa mendengar ceritaku tentang makhluk tak kasat mata. Namun dia tak pernah melihatku hingga seperti itu. Namun aku sudah merasa baik-baik saja. Dan tidak begitu memikirkannya lagi.

Hingga malam menjelang, aku masih sedikit terusik dengan kepalaku yang terasa pusing dan berat. Aku pun memilih untuk tidur lebih awal. Namun aku merasa ada yang mendekat, bayangan besar dari balik mataku yang terpejam. Aku merasakan kehadirannya, hingga belum sempat aku membuka mata lagi-lagi makhluk itu menyerangku.

"Ahh.. Sial.. Makhluk tak tau diri. Masih saja kau kembali..!" makiku dalam hati.

Tapi kali ini aku sudah tau cara mengatasinya hingga dengan mudahnya aku melepaskan diri dari cengkraman makhluk bertaring itu.
Aku tidak tahan dengan makhluk besar yang terus saja mengusikku. Akupun menceritakan semuanya kepada Ayah. Wajar saja, dia juga memiliki kemampuan lebih. Namun, netranya tidak dapat melihat sempurna makhluk tak kasat mata tetapi Ayah memiliki kepekaan terhadap keberadaan mereka sama sepertiku.
Akhirnya malam itu, Ayah dan Mama memutuskan untuk menemaniku tidur di kamar.

Tidak sampai disitu, ketika Ayah terjaga aku disuruhnya untuk tidur duluan. Dan hebatnya tidak terjadi apa-apa hingga aku bisa mengistirahatkan tubuhku yang sudah terlalu lelah. Namun, ketika Ayah juga ikut tertidur aku mengalami penyerangan kembali hingga berulang-ulang dan aku memutuskan untuk berjaga agar tidak lengah. Aku tak ingin membangunkan Ayah karna ku tahu ia juga sangat lelah dan besok ia harus bekerja.


✳✳✳



Pagi ini matahari kembali bersinar terang. Menyambutku dari peraduan malam yang melelahkan. Tubuhku terasa begitu lemas karna hampir 2 malam aku tak dapat beristirahat dengan tenang.

Perasaanku semakin tak karuan, sehingga aku pun kembali menceritakan kepada Ayah kejadian semalam. Jelas ia sangat kaget, karna malam itu Ayah merasa sudah tidak ada apapun hingga ia memutuskan untuk tidur. Kami saling beradu pandang dan memikirkan hal yang sama, "dimana makhluk itu bersembunyi?"

Lalu Ayah menyuruhku untuk membeli air sari bunga mawar. Dan berkata, setelah pulang kerja kami akan melakukan shalat bersama. Aku memutuskan untuk tetap terjaga sepanjang hari agar bisa memperhatikan sekelilingku sembari menunggu Ayah pulang dari kantornya.


✳✳✳



Waktu menunjukkan pukul 19.00 Wib. Ayah sudah pulang dari kantor. Ia langsung menyuruh kami menyediakan segelas air mineral, dan juga satu ember air biasa. Ayah meminta kami semua untuk segera berwudhu dan masuk ke ruangan shalat untuk melakukan sholat berjama'ah.

Kami melaksanankan sholat sunah 2 rakaat. Seusai sholat, Ayah menyuruh kami meminum air mineral yang sudah di doain lalu menyuruh kami mencuci wajah dengan air di ember yang sudah diberi sari bunga mawar.
Setelah semua selesai kami lakukan Ayah langsung menjawab pertanyaanku yang langsung terlihat dari raut wajahku menatapnya dengan tatapan keheranan.

Ayah mulai membuka pembicaraan, "makhluk itu sudah tidak ada. Dia hanya ingin berinteraksi denganmu karna auramu yang berbeda. Sekarang dia sudah kembali ke tempatnya. Dan gak akan bisa kembali lagi ke rumah kita."

Mendengar ucapan Ayah, kami menarik napas lega. Teror kamar 211 itu sudah berakhir. Akhirnya aku bisa terlepas dari gangguan makhluk besar berbulu yang menyeramkan. Dan benar saja, malam itu aku bisa langsung tertidur pulas tanpa ada yang mengusik mimpi indahku dalam kegelapan malam penuh bintang.


Tamat...



Giman sobat? Seru gak? rolleyes
Ha,, itulah sekedar berbagi pengalaman saja. Tapi itu sudah menjadi hal yang biasa buat Zia. Hitung-hitung menambah banyak temen tidak hanya dari dunia nyata tetapi juga dari dunia lain. biggrin
Karna kita hidup saling berdampingan. razz

Akhir kata Zia mengucapkan;

Wassalamu'alaikum Wr.Wb

Saat Hujan

August172016
Assalamualaikum Wr.Wb Apa kabar sobat MWB? Semoga pada baik ya Sebelumnya Zia mengucapkan; Dirgahayu Republik Indonesia ke-71 Merdeka!! Jayalah Indonesiaku selalu!! Dihari yang sangat spesial ini, Zia gak punya artikel spesial untuk kemerdekaan. Zia masih belum bisa move on nihh.. Pengen curhat Dah lama gak denger curcol Zia kan? Tadinya mau buat puisi kemerdekaan. Tapi dimana-mana Zia lihat puisi kemerdekaan sudah... [Baca selengkapnya]

Amplop Biru

August142016
ThumbnailPagi ini, matahari tak menyambut indah dengan cahaya keemasannya. Biru langit tak memperlihatkan meganya. Perlahan rintik hujan jatuh membasahi bumi. Membuatku semakin menarik selimut biru tebal bermotif barbie untuk menutup seluruh tubuhku. Aku akan beristirahat seharian karna ini adalah hari libur. Namun telingaku terganggu dengan berisik suara handphone yang sedari tadi berdering. Aku mengangkat asal tanpa melihat nama atau nomor... [Baca selengkapnya]

My Family

August092016
ThumbnailAssalamualaikum Wr.Wb Ehhemm.. Hallo.. Aku dah move on nihh dari postingan yang kemarin. Kali ini, aku ingin bercerita sedikit tentang keluargaku. Karena bagiku mereka adalah segalanya. Mereka juga harus hidup dalam tulisanku. Walau hanya tulisan ala kadarnya. Tapi hanya tulisan ini yang akan dapat dibuka dan dibaca lagi setelah aku tiada. Itu salah satu alasanku untuk menulis. Aku terlahir sebagai anak bungsu, dari... [Baca selengkapnya]
 
Kembali ke Atas